Saat ini, hampir semua aspek kehidupan kita berbasis digital. Termasuk juga dunia keuangan yang kaitannya cukup erat dengan dunia teknologi dan digital. Teknologi dalam dunia keuangan berkembang semakin cepat dan luas. Secara keseluruhan, ada kenaikan investasi sebesar 67% di industri berbasis keuangan di quarter pertama tahun 2016, dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan yang cukup mengejutkan tersebut, memiliki nilai sekitar 5.3 Milliar US Dollar, dalam skala global.

Dalam sebuah penellitian, perusahaan yang bergerak secara khusus pada bidang pembayaran di negara negara berkembang, menarik banyak minat investor. Sebagai contoh, dalam industri teknologi bidang keuangan, 38% dari jumlah investasi untuk negara negara yang termasuk dalam wilayah Asia Pacific (APAC) disalurkan untuk perusahaan yang bergerak di bidang “Metode Pembayaran”. Angka 38% memang cukup besar dan apa adanya, namun angka tersebut muncul karena adanya permintaan dan kebutuhan untuk metode pembayaran yang inovatif.

Peluang untuk Perekonomian Tunai. Besar, namun beresiko

Judul diatas sesuai dengan kondisi perusahaan e-commerce  yang berada di negara negara dengan perekonomian tunai. Pertumbuhan perusahaan tersebut memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan, namun mereka (masih) membutuhkan bantuan untuk metode pembayaran. Sebagai contoh, menurut survey, selama 6 bulan terakhir, ada sebanyak 34% masyarakat di negara negara wilayah Asia Pacific, membayar belanja daring (online) mereka dengan uang tunai . Angka ini terus naik menjadi 54% di Afrika dan 84% di India.

Akibatnya, toko online mencoba untuk menyesuaikan dengan market,  yang rata rata pelangannya masih lebih menyukai transaksi tunai. Toko online mulai melakukan memberlakukan pembayaran dengan cara Cash On Delivery  (COD) agar konsumen mereka tetap mau (dan dapat) berbelanja di toko online mereka. Hal ini (sebetulnya) cukup beresiko, karena mungkin saja uang tunai tersebut tidak pernah “tiba” di perusahaan. Sebagai contoh, bila pelanggan tersebut ternyata sedang tidak berada di rumah. Atau uang tunai pelanggan tersebut ternyata kurang dari jumlah yang seharusnya dibayarkan. Belum lagi wilayah yang medannya masih cukup sulit dilalui. Entah karena infrastruktur di wilayah tersebut masih belum memadai, transportasi yang terbatas, dan lain lain, maka biaya logistik dapat menjadi sangat mahal. Ini adalah kendala yang cukup serius bagi toko online manapun.

Tapp Commerce dapat mengurangi resiko pembelian tunai

Tapp Commerce dapat memecahkan masalah Cash On Delivery  dengan cara menerima uang tunai ketika pelanggan selesai melakukan pemesanan. Para pelanggan tersebut tidak memerlukan kartu kredit, kartu debit, bahkan tidak memerlukan rekening bank untuk bertransaksi. Tapp Commerce telah mengembangkan Marketplace  daring dan sebuah aplikasi yang kami beri nama Tapp Market. Untuk memaksimalkan sistem pembelian tunai yang kami kembangkan, kami lengkapi Tapp Market dengan dukungan jaringan Agen yang luas, untuk membantu transaksi tunai dengan para pelanggan. Dengan cara ini, kami dapat mengurangi resiko anda sebagai penjual (merchant). Penggunaan uang tunai untuk transaksi daring menjadi lebih nyaman dan aman. Semua orang yang menjual barang dan produk mereka di Tapp Market, selalu dapat dipastikan akan dibayar.

Saat ini Tapp Market memiliki sekitar 45.000 Agen di seluruh Asia Tenggara, dan angka ini terus bertumbuh dengan pesat. Dalam waktu dekat, Tapp Commerce menargetkan pertumbuhan Agen menjadi 500.000, serta memperluas jaringan bisnisnya ke negara negara berkembang yang lain, diluar wilayah Asia.

Bergabunglah bersama kami

Bila anda ingin menjadi bagian dari keluarga besar Tapp Market, serta ingin menjual produk dan jasa anda di Tapp Market, maka Anda dapat menghubungi kami disini.

foto-gw-keren-small-size

Lucky Andreadi Purboyo

Digital Marketing Tapp Market Indonesia

facebook-icon_very-small-size linkedin-icon_very-small-size